Arsip untuk Orat Oret kategori

Yang berbakti yang menderita

Posted in Orat Oret on 6 Maret 2009 by purple1milestone

 

Minggu pertama dan kedua…

Di mood saya yang seharusnya kacau and desperate due to recent loss, kok saya-nya malah merasakan nothing happen dan merasa nyaman aja dengan keadaan. Barangkali efek dari pengalaman sebelumnya yang berbuah gagal, berkahnya sudah siap mental!  Di ahir penyelesaian masalah, sesuatu yang membuat aku shock dan mata baru melek. Tidak semua seperti keliatannya (Nath, pinjam kalimatmu yach hehe).  Ajaibnya perasaan yang mengebu kok menguap begitu aja, tanpa sisa, tanpa merasa hancur.

 

Di minggu ketiga…

Saya sedang dalam  balutan emosi yang berbelit belit.

Sedih, marah, sayang, benci dan kangen. Sedang menghampiri saya.

Buat pria, menghadapi ini hanya 2 atau 3 hari dah hilang, sambil round- round + dengerin musik dari audio car ato main PS hingga dini hari, bisa jadi kongkow – kongkow di  Godiva atau semacamnya sudah hilang.

Bagaimana dengan saya? wanita bijaksanapun terlihat bodoh kalo sudah terlibat dengan perasaan.

(apalagi saya yang merasa jauh dari bijaksana). Kadang malam malam tertentu saya masih menggenangkan air mata untuknya.

 

Adalah potret sebuah keluarga yang terbingkai dari frame “ elite ?” dimana perjodohan merupakan sebuah sarana untuk mencapai tahap kehidupan yang lebih ber “imej”  baik dan tercepat. (sedemikian haus kehormatankah? + pelarian dari kegagalan pilihan di masa lalu? + upaya mempertahankan kewarasan hidup? + yang perlu pencerahan itu saya ato mereka?) Arghhh, entahlah saya tidak berhak meng-judge mereka seperti mereka men-judge saya.

Ternyata apa yang saya miliki sekarang, perasaan dan ketulusan tidak cukup kuat, persoalannya terletak pada gelar. Sebuah profesi di jadikan senjata utama. Lantas hanya profesi dokterkah yang layak di hargai ? bagaimana profesi lainnya? Terlalu dangkal jika esesensi hidup terletak di situ dan over manipulate.

Sialnya para yang mengatasnamakan ”orang tua”  ini  senang memilih kalimat durhaka dan tidak berbakti seandainya ada penolakan dari yang muda. Meski penyampaian cara damai telah di tempuh, semua fakta dan alibi juga telah di kerahkan tetap aja hasilnya Nihil! (atau kamu belom mencoba nath? hehehe).

Kenapa tidak berdamai dengan fakta, perjodohan itu jelas gambling, yang bisa memenjarakan perasaan …D’oh yang berbakti yang menderita…

(Nathan, Happy  late valentine! kamu hebat kok bisa bertahan waras di tengah tengah ketidakwarasan itu and while my injured ego I was found about my self, more. Wish u too)

Leave me, please

Posted in Orat Oret on 25 Februari 2009 by purple1milestone

Hey, kamu yang di sana

Yang pernah membangun ladang luka di taman hatiku hingga bernanah. Aku yang kau tinggalkan berkubang perih, terseok seok melangkah di tepian jurang ketidakberdayaan. Luruh dan gersang kau pergi tanpa peduli.

Iya, kamu yang disana

Tak perlulah kau usik riuh hari hariku yang yang telah kembali. Pergantian  musim mengikis habis ladang luka itu. Aku yang kini tlah menata kembali taman hati yang tercerai berai di hantam dalil dalil pengkhianatanmu yang berbasis nafsu. Pergilah, simpan saja bius rindumu yang mengebu. Curahkan saja pada dia pengantin pilihanmu.

(malam baru saja merangkak di emerald saat nomormu muncul di layar handphoneku.. wahai pemilik +6277870517xx ..leave me, please..aku terganggu..)

Rama & Sinta

Posted in Orat Oret on 24 Februari 2009 by purple1milestone

Sinta.Lambang cinta yang tak pernah padam walau di goda oleh Rahwana yang mempunyai sepuluh muka. Sudah seharusnya Sinta menjadi pasangan Rama, tetapi Rama sang “pewaris tunggal silsilah kerajaan”  mengemban titah yang harus di tunaikan meski hatinya jadi taruhan.

Atas  semua pengharapan dan keinginan memamerkan kedigdayaan kerajaan, upacara sacrament telah di rencanakan. Kelak, ketika kabut senja memeluk kota. Demi  pengabdian dan ajaran cultural yang sakti mandraguna itu Rama tidak bisa mengelak tanpa bermaksud menyakiti Sinta. Sinta layaknya terhempas dalam lorong lorong gelap, sunyi dan memilukan.

Tak kuasa menyatukan kisah Ramahyana yang maha dahsyat dalam sebuah dunia yang sebenarnya, Ramapun bertekad melukiskan dunia penuh warna di kanvas kehidupan Sinta lewat sisa waktu yang ada.  Dilema melanda, tak kuasa menolak Sinta memilih terjebak dalam hubungan yang mendebarkan dan tidak menjanjikan. Cerita pun bergulir.

Kepada Rama;  ” Tolong katakan kepadaku, dimana aku bisa mengubah darahku agar aku bisa menjadi seseorang dari golonganmu yang bisa leluasa mendampingimu?”

(addicted to weblog, addicted to love, addicted to u, u ..and u)